Showing posts with label comedy. Show all posts
Showing posts with label comedy. Show all posts

Wednesday, August 3, 2011

July Movie Kaleidoscope

Hello blog! Whew it has been ages since i post in here. I'm quite sorry for abandoning you but my personal and professional life has been quite a blast this past months. I got lots of job opportunity, had to take care for upcoming art event on my campus, and on top of that i finally launched my own clothing line. But that doesn't mean my passion for movie has gone. I'm kinda in a phase where i enjoy streaming anime weekly, and some several tv series rather than watching in the cinema. I reallyrecommend you guys check out this three anime No.6, Mawaru Penquindrum, and Dantalian no Shoka. They've got awesome animation, engaging story, and honestly, none of that silly japanese antics.

Back to movie, i only managed to watch 3 movies in the month of july 2011. Well, that's quite sad, but I guess I can't help but weep whenever I see the list of pictures that are showing each week. Anyway, i'll review those three in one post I called "kaleidoscope". On the side note, do pardon my attempt on writing in english, I'm not that good at it *chuckle*.
Insidious
Watched on July the 3rd at Anggrek XXI
Film Review : 8/10 (This movie was freaking awesome! The atmosphere was very chilling, and it build the tension very smoothly without any feeling of being rushed. The actors were believeable and sympathetic, and for once the characters aren't silly horror caricature. It was kind of a let down the film go downhill after the first hour for shifting to another character so suddenly and put a deus ex machina that is quite predictable. But overall this is a very nice horror flick, and the first one that actually make me shriek in a theater.....for three times)
Catatan Harian si Boy
Watched on 12th of July at Pondok Indah 1 XXI
Film Review : 8.5/10 (This is a very, very fresh Indonesian Movie. The dialogue was very gripping, clever, funny and touching at the same time. The writers actually managed to give a depth at every character. While only few of them work and become more than two dimensional character, the attempt are worth applauding considering some Indonesian movie actually relies on their characters antics rather than giving them some character development. The action scenes are not over the top and believeable, the story was cleverly interwoven and the movie itself was very enjoyable. It put a benchmark on how a good enjoyable movie can be made without involving half baked nudity, silly looking ghost, or melodramatic weepy teenage romance. It creates a new genre, which hopefully follows with a lot of movie that tries to live up to the quality this movie presented.)
Larry Crowne
Watched on the 23rd of July at La Piazza XXI
Film Review : 5/10 (Well that was a disappointment. I was hoping for a heartwarming romantic movie featuring simpathetic face and extraordinary sexy lip. What i got was a movie that tries to be heartwarming by simplifying things to the point of unrealistic, making every side-characters the "wise-man" by giving the protagonist a very preachy, wise way of life people can seek on the internet, and a romance build up by one kiss and no chemistry at all. Seriously, this movie is bad. I only get a few chuckle by the guy who looks like Bruno Mars and nothing else. Flat, boring, and forgettable.)

Tuesday, March 15, 2011

Movie : Morning Glory (2010)

- It's The Story People! -
Becky Fueller (Rachel McAdams) adalah seorang produser verita pagi di New Jersey yang melakukan pekerjaannya dengan penuh determinasi dan dedikasi. Namun karena budget cut yang diadakan channelnya, ia terpaksa harus dipecat. Di usianya yang mendekati 30 tahun, mencari pekerjaan bukanlah hal mudah. Tawaran terakhirpun ia ambil sebagai executive producer di acara berita pagi Daybreak. Acara itu menduduki posisi bontot acara pagi di new york dan sudah sekarat. Setelah memecat anchor laki-lakinya, ia pun merekrut anchor legendaris untuk berita malam Mike Pomeroy (Harrison Ford) untuk mendampingi Coleen Peck (Diane Keaton). Dengan ancaman dicancelnya acara tersebut dalam 6 minggu, perseteruan di antara mereka semakin memanas, diikuti dengan kehidupan pribadi Becky dengan Adam (Patrick Wilson) yang juga merenggang.
Morning Glory disutradarai oleh Roger Michell yang telah menyutradarai Noting Hill dan ditulis oleh Aline Brosh McKeena yang menulis script The Devil Wears Prada. Yang dihasilkan oleh pertemuan itu adalah sebuah film komedi yang lucu, heartwarming, dan engaging karena permainan dari para castnya yang luar biasa dan menyenangkan. Plot mengenai pekerjaan di dunia pertelivisian adalah sebuah plot seru yang sayangnya jarang digali. Meskipun tidak terlalu dalam di sisi dunia erja, etika pekerjaan, dan hal-hal berbau teknis lainnya, film ini unggul dalam memberikan sebuah kisah yang dijamin menarik hati penonton untuk mengikuti sampai akhir.
Perjuangan Beckie menyelamatkan acaranya menjadi sangat seru tatkala Beckie dimainkan dengan sempurna oleh Rachel McAdams. Ia bersinar disini, menjadi bintang utama yang membawa film ini sepenuhnya di pundaknya. Karakter Beckie yang determinasinya tinggi dan ambisinya tak pernah padam dimainkan dengan sukses sehingga mengajak penonton untuk menyukainya. Harrison Ford juga tidak kalah engaging dengan karakternya yang sinis, tapi pada akhirnya takluk pada ke-likeable-an Beckie. Diane Keaton bermain sempurna sebagai news anchor acara pagi dan cukup aneh melihat ia tidak pernah mendapatkan talkshownya sendiri. Meskipun sedikit underused, ia menjadi bumbu penyedap yang sangat manis bagi film ini. Patrick Wilson mendapatkan tipikal peran yang dapat dipastikan underused, tidak dikupas mendalam dan selingan semata. Itu dapat dimaklumi, dan syukurnya, film ini tidak merambah terlalu dalam di genre romanticnya karena di sisi komedinyalah film ini bersinar.
Morning Glory tidak memberikan gebraan berarti di dalam genre komedi begitu pula di genre newscasting. Meskipun insight yang diberikan tidak terlalu dalam, film ini beruntung karena memiliki salah satu casting terkuat sepanjang tahun 2010 kemarin karena karakterisasi yang pas dari setiap pemainnya dan supporting cast yang menjalankan perannya dengan baik. Pengambilan gambar, meskipun tidak ada yang spesial, turut berperan serta dalam mengajak penonton terbawa dalam suasana perjuangan Beckie. Soundtracknya juga efektif membawa mood penonton seperti selayaknya yang harus dilakukan oleh sebuah sit-com seperti ini. Aline Brosch McKeena kembali menyajikan cerita mengenai determinasi wanita di kantor tempat ia bekerja, namun kali ini permainan akting dari tokoh utamanya jauh lebih kuat dan likeable. Sebuah film komedi yang menitik beratkan pada karakter dan bukan pada gimmick bodoh yang lain, film yang manis untuk menjadi hiburan di kala kepala sedang penat.

Verdict : 8.2/10

Thursday, March 3, 2011

Series : Hot in Cleveland

- Four Lady and A BIG Laugh -
Betty White sedang naik daun beberapa tahun belakangan ini. Susah membayangkan seorang aktris berumur 90 tahun yang mencapai puncak ketenaran di usia setua itu. Namun ia tetap tersenyum, tampil ceria dan melontarkan joke-joke dan punchline dengan gaya yang khas dan menarik. Selepas The Proposal, Betty aktif berlaga di layar lebar maupun serial televisi, membintangi lebih dari 8 proyek di tahun 2010. Hot in Cleveland adalah sebuah serial sit-com yang pada awalnya hanya ingin memasang Betty White sebagai seorang guest star, namun performanya yang kocak mendapatkan sambutan baik dan ia pun diangkat menjadi series reguler. Hot in Cleveland juga menampilkan Wendie Malick yang mukanya familiar, dan dua aktris kawakan di serial televisi, Jane Leeves dan Valerie Bertinelli, yang juga hadir memberikan comeback yang tidak disangka-sangka.
Melanie (Valerie Bertinelli) adalah seorang penulis yang baru saja menyelesaikan perceraian dengan suaminya. Anak-anaknya sudah berkuliah dan hidup mandiri, oleh karena itu ia menetapkan untuk berjalan-jalan ke paris bersama dua sahabatnya, Victoria (Wendie Malick) artis sitcom kawakan dan Joy (Jane Leeves) pencabut bulu mata terkenal di L.A. Tanpa mereka harapkan, pesawat mereka mengalami gangguan penerbangan dan harus mendarat mendadak di Cleveland, Ohio. Sembari menunggu penerbangan mereka selanjutnya, merekapun terpaksa bermalam di daerah yang bertolak belakang dengan Los Angeles. Disana mereka diperlakuan layaknya wanita cantik dan diajak kencan oleh para pria, dimana mereka biasanya diacuhkan oleh para lelaki di daerah Los Angeles. Terejut atas perbedaan menyenangkan ini, dan dapat diduga dari sebuah sit-com, mereka memilih untuk menyewa rumah yang dihuni Elka (Betty White), seorang pengurus rumah berusia 90 tahun, dan tinggal bersamanya.
Premise yang sit-com banget ini nyatanya tidak pernah menjadi membosankan untuk ditonton. Sekali lagi, tanpa adanya Betty White bisa dijamin serial komedi ini akan selucu sekarang. Ceritanya tidak pernah membosankan dan bordering-on-absurd, namun tetap kocak dan menghibur. Terlihat beberapa kali aktornya berimprovisasi yang justru makin efektif melihat skrip yag ditulis juga cukup sharp dan menarik. Meskipun dialognya melulu mengenai bagaimana mencari pasangan di usia 40 tahun ke atas, pengembangan karakter Melanie, Victoria dan Joy tidak begitu saja dilupakan dan dikesampingkan. Satu yang membuat serial ini berbeda dengan sit-com lainnya adalah usahanya untuk tampil real dan tidak seabsurd sit-com lain. Meskipun tetap corny dan sedikit unbelieveable, banyak sekali moment L-O-L yang bisa didapat dari seri ini. Never boring though never perfect. Sebuah serial komedi yang menyadari kelemahannya, namun tidak malu-malu dalam menutupinya dengan guyonan-guyonan kocak yang menggelitik dan menghibur.
Verdict : 8/10

Monday, February 7, 2011

Oscar Watch List : Toy Story 3

- And Then There Were Three -
SPOILER ALERT! Toy Story adalah sebuah franchise yang amat sangat sukses baik itu secara komersial maupun kualitas. Kisahnya yang universal dan dapat menyentuh hati seluruh orang membuat seri ini dianggap timeless dan masterpiece yang harus ditonton semua orang. Pengumuman akan dibuatnya jilid ke-3 dari franchise Disney-Pixar ini beberapa tahun yang lalu disambut dengan antusias tinggi dari semua kalangan. Fans-fans lama dari film-film sebelumnya yang dirilis lebih dari satu dekade yang lalu tidak akan melewatkan kesempatan ini untuk bernostalgia. Fans-fans baru dari kalangan muda juga tidak sabar lagi menunggu petualangan Woody dan Buzz selanjutnya yang mereka kenal melalui pemutaran film-film sebelumnya di televisi dan dvd. Toy Story 3 mendapatkan cuntikan budget tinggi, yakni mencapai 200 juta US$, hal ini membuktikan kepercayaan Disney akan film tersebut. Terbukti, Toy Story 3 merupakan film terlaris pada tahun 2010 dengan pendapatan menembus 1 miliar US$ di seluruh dunia. Bersama dengan 4 nominasi lainnya, Toy Story 3 adalah satu dari sepuluh kontender Best Picture Oscar yang akan diumumkan pada tanggal 27 Februari nanti.
Andy sekarang berumur 17 tahun. Tidak lama lagi ia akan masuk kuliah dan meninggalka rumahnya. Kenyataan ini membuat Woody, Buzz, Mr. Potatoes dan mainan-mainan lainnya. Andy berencana memasukkan mainan-mainan lamanya ke dalam gudang di atapnya, namun akibat beberapa kesalah-pahaman, ibu Andy mengambil plastik berisi mainan-mainan tersebut dan mengirimkannya ke sebuah pusat penitipan anak. Sesampainya di sana, Woody bersikeras untuk mencari jalan pulang ke rumah Andy karena merasa ia masih membutuhkan mereka, namun rencananya dihalang-halangi oleh teman-temannya. Mereka yakin Andy sudah dewasa dan tidak membutuhkan mereka lagi. Ditambah nasihat dan bujukan dari pemimpin Sunnyside Daycare, Lotso, mainan-mainan Andy yang lainpun memilih untuk tinggal di penitipan anak ini dan bermain dengan anak-anak kecil yang akan lebih menghargai mainan seperti mereka. Namun tidak disangka-sangka, kehidupan mainan di Sunnyside tidak seindah itu manakala mereka harus mau dimainkan oleh anak kecil dibawah 3 tahun yang belum mengerti bagaimana memainkan mainan dengan baik. Dapatkah mereka keluar dari tempat penitipan anak itu, kabur dari pemerintahan otoriter Lotso dan kembali ke Andy yang menyesal telah membiarkan mereka dibuang oleh ibunya?
Toy Story 3 menjadi film animasi ke-3 yang dinominasikan dalam kategori Best Picture Oscar. Namun nominasi itu dianggap tidak perlu, karena jika ia gagal menang tahun ini dan mentorehkan record amazing menjadi film pertama yang menang Best Picture, ia tetap akan menang sebagai Best Animated Feature. Akan lebih rasional jika film ini hanya dinominasikan di Best Picture sehingga memberikan jalan bagi How to Train Your Dragon untuk memenangkan kategori tersebut. Meski begitu, kualitas film ini secara teknis dan skrip tetap tidak dapat dipungkiri. Meski ceritanya mencomot-comot beberapa elemen dari film pelarian dari sebuah penjara seperti Prison Break dan beberapa film lainnya, Toy Story 3 tetap berhasil mengemasnya dengan humor-humor yang fresh dan universal. Aksi kocak Woody dan kawan-kawan dijamin akan membuat seluruh anggota keluarga tertawa. Pesan moralnya yang mendalam dan menyentuh, disajikan dengan simpel namun elegan dan mudah dicerna oleh semua orang. Woody yang belum bisa menerima kenyataan bahwa Andy sudah dewasa akhirnyapun harus belajar bahwa tidak ada yang abadi di kehidupan ini. Things has to move on, one way or another. Jika harus ditanya apa kelemahan film ini, adalah sedikitnya originalitas yang ditawarkan. Mainan yang berbicara memang sebuah arena yang dikuasai oleh Toy Story namun kisah mengenai pelarian diri sudah dipakai di dua film sebelumnya, meski dengan personil dan joke yang berbeda. Meskipun hal tersebut harus sedikit disayangkan, itu tidak menutup kenyataan bahwa film ini masih jauh lebih superior dari puluhan film animasi yang dirilis di dekade ini. Kenyataan pahit bahwa endingnya akan hadir dalam bentuk perpisahan disajikan dengan sangat melankolis dan heartbraking. Bittersweet and endearing, itulah dua kata yang bisa mendeskripsikan film ini secara keseluruhan. Kualitas teknis film ini juga merupakan salah satu hal yang patut diacungi jempol. Animasi yang dihadirkan sangat colourful, fluent dan imajinatif. Kualitas penggunaan 3d-nya juga merupakan salah satu yang paling top-notch sepanjang tahun ini. Meskipun begitu, sayangnya, saya merasa belum waktunya untuk sebuah film animasi memenangkan kategori Best Picture di Oscar. Menurut saya film ini masih kalah kuat dibandingkan Beauty and The Beast yang menyajikan cerita yang tidak kalah sentimental, fun dan menyentuh. Film ini adalah salah satu film terbaik di tahun 2010 ini, dimana film-film animasi berkualitas berjaya di tangga box office dan hati para penonton, namun sayang saya melihat sedikit kemungkinan film ini bisa menang.

Verdict : 9.3 / 10

Tuesday, February 1, 2011

Oscar Watch List : The Kids Are All Right

- Marriage, In All It's Honesty and Truth -
SPOILER ALERT! The Kids Are All Right adalah sebuah film hasil ide Lisa Cholodenko yang diangkat dari beberapa event di kehidupannya, Penulisan scriptnya sudah matang dari tahun 2004, namun proyek ini harus terseret-seret karena susahnya cairan dana yang ia dapat dan beresikonya topik yang ia angkat. Perjuangannya tidak sia-sia setelah aktor-aktor kawakan mulai bersedia membantunya dan distributor besar dari Prancis mau membiayainya. Film ini merupakan salah satu hit di Sundance festival dan berhasil memenangkan Teddy award di Festival Berlinale ke 60. Sebuah komedi satir yang bercerita mengenai pahit manisnya kehidupan berkeluarga, baik itu secara heteroseksual ataupun homoseksual. The Kids Are All Right adalah satu dari sepuluh kontender Best Picture Oscar yang akan diumumkan pada tanggal 27 Februari nanti.
Jules (Julianne Moore) dan Nic (Annete Benning) adalah sepasang pasangan lesbi yang memiliki anak dari donor sperma yang sama. Kedua anaknya, Joni (Mia Wasikowska) gadis pintar berusia 18 tahun yang akan segera masuk ke college dan Laser (Josh Hutcherson) remaja 15 tahun yang sedang memasuki fase akil baliknya, menambah kebahagian keluarga kecil tersebut. Tidak bisa dipungkiri, beberapa masalah kerap melanda keluarga mereka mulai dari sikap Nic yang dominan, Jules yang tidak bisa memegang pekerjaan tetap, Joni yang introvert dan pendiam, serta Laser yang suka memberontak dan bergaul dengan teman yang tidak baik. Namun masalah terbesar datang saat Joni dan Laser berinisiatif menghubungi ayah sperma mereka, Paul (Mark Ruffalo) yang hidup membujang dan bercinta dengan berbagai rekan kerja di restorannya. Sebesar apakah pengaruh si donor sperma dalam keluarga kecil mereka tersebut?
Berkebalikan dari Black Swan yang lebih dulu saya bahas, film ini tidak mengandalkan efek yang megah, koreografi yang menawan, atau set background yang breathtaking. Film ini membahas sebuah keluarga, pada umumnya, yang tidak berbeda jauh dari keluarga lain. Meskipun kepala keluarganya adalah sepasang wanita, problematika yang ada tidak jauh dari keadaan kita sehari-hari. Film ini membahas masalah yang ada atau mungkin ada, dengan apa adanya dan tidak berusaha "memaniskan" suasana atau "mendramatisasi" secara berlebihan. Yang menjadi kelebihan dari film ini adalah usahanya untuk tidak menanggapi dirinya terlalu serius. Dibalut dalam suasana komedi satir, momen-momen yang konyol kerap hadir dan tidak menganggu alur cerita yang sudah sangat rapi disusun. Annete Bening dan Julianne Moore bermain sangat apik, meyakinkan dan emosional sebagai Nic dan Jules. Emosi yang mereka pancarkan amat sangat nyata dan membawa para penonton masuk ke dalam kehidupan sehari-hari dan ikut merasakan problematika yang melanda mereka. Permainan para supporting castnya juga efektif, meski tidak sebrilian kedua wanita tadi. Yang sedikit disayangkan adalah betapa underusednya Laser dan Joni. Jika mau ditelaah, sub-plot perselingkuhan Jules memang menarik, namun masalah selingkuh sudah amat sangat sering dibahas dalam berbagai film lainnya. Kisah Joni yang introvert dan akhirnya harus "cracked" saat melihat keluarganya yang tidak sesempurna itu jauh lebih menarik dan baru. Argumennya dengan kedua orangtuanya 20 menit sebelum film berakhir benar-benar efektif dan membuat hati tergerak melihatnya. Terlebih lagi Laser yang tidak dieksplor lebih dalam selepas Paul masuk dan merusak perkawinan mereka. Laser yang dalam masa akil balik dan "eksploratif" dalam hal seksual merupakan sebuah sub-plot yang tidak kalah seru untuk digali. Meskipun begitu, eksekusi dari film ini tidak benar-benar mengesampingkan mereka, meskipun cukup disayangkan potensi yang ada tidak dikembangkan lebih jauh.

Verdict : 8.7/10

Friday, December 10, 2010

Raising Hope

- Raising Absurdity -
James "Jimmy" Chance adalah seorang pria berusia 23 tahun yang bekerja bersama ayahnya, membersihkan ladang rumah orang-orang kaya. Ibunya bekerja membersihkan rumah dan ayahnya bekerja membersihkan kolam. Bersama maw maw (neneknya) mereka tinggal dengan kondisi cukup dan mampu bertahan dengan segala keabsurd-an satu sama lain. Suatu hari Jimmy bertemu dengan Lucy, seorang wanita yang meminta tolong dibawa kabur dari seorang laki-laki yang mengejarnya. Lucy yang tidak bisa ditebak tertarik pada Jimmy dan bisa ditebak, mereka berhubungan *piiiip* di dalam mobil Jimmy. Selidik punya selidik, Lucy adalah wanita temperamen yang telah membunuh beberapa orang. Karena hubungan *piiip* mereka yang tidak menggunakan "pengaman", Lucy hamil dan sebelum dihukum di kursi listrik, memberikan anaknya untuk dirawat oleh Jimmy.
Seri baru ini awalnya cukup diragukan oleh khalayak banyak, namun meskipun awalnya sedikit "shaky", serial ini menjadi semakin lucu ke belakangnya, terutama setelah kita melihat bahwa karakternya lebih dari karikatur orang absurd tetapi menjadi orang absurd yang terjebak dalam situasi yang tidak kalah absurd. Rating yang lumayan kuat membuktikan betapa lucunya serial ini. Ceritanya memang biasa saja. Seorang ayah yang tidak siap, seorang bayi yang tidak diinginkan, kakek-nenek yang kawin muda dan kampungan, dan nenek buyut yang pikun akut. Namun pembawaan karakternya amat sangat menggelitik, saya tidak bisa berhenti tertawa melihat aksi-aksi maw-maw dan debat antara Jimmy dan ibunya Virginia.
Lucas Neff adalah pendatang baru yang mendapatkan big breaknya sebagai tokoh utama di serial ini. Ia memainkan Jimmy dengan kenaifan yang membuat kita simpatik dan kepolosan yang membuat kita terpingkal-pingkal. Martha Plimpton bermain sebagai ibu dari Jimmy, Virginia, yang tidak kalah kocak. Sikapnya yang cuek acuh tak acuh, bahkan cenderung kasar dan urakan perlahan-lahan luntur dan kita bisa melihat sisi baik dari dirinya di sepanjang serial ini. Permainannya begitu nyata, rasa simpatik saya kerap terketuk, lalu diselingi tawaan keras tentunya. Namun yang paling menonjol adalah Cloris Leachman sebagai maw-maw. Komedian tua yang bermain sebagai nenek-nenek the grudge di scary movie 4 ini tampil paling kocak dan absurd dibandingkan cast-cast lainnya. Melihatnya sering lupa memakai baju, tampil telanjang di pengadilan, menjadi cat-woman di saat halloween, bermain zenga sambil mendengarkan lagu istanbul, demi apapun maw-maw adalah salah satu karakter terkocak yang pernah saya temui.
Serial komedi mengenai sebuah disfunctional family memang tidak pernah baru, dan tidak akan pernah berhenti dibuat. Namun meski begitu, bukan berarti semuanya sama dan generic begitu saja. Raising Hope berani beda dengan segala keabsurd-annya dan membuat serial ini berada di atas serial komedi ecek-ecek lainnya.

Verdict : 8/10

Wednesday, September 8, 2010

Modern Family

- R.O.T.F.L.M.A.O -
Bayangkan sebuah keluarga yang terdiri dari 3 bagian. Sang ayah menikah untuk kedua kalinya dengan seorang janda seksi dari colombia dengan anak berusia 10 tahun. Sang anak perempuan sudah menikah selama 16 tahun dengan seorang real estate agent dan memiliki 2 orang anak perempuan remaja dan 1 bocah ingusan. Sang anak laki-laki menikah dengan pasangan sesama jenisnya dan mengadopsi seorang bayi perempuan dari vietnam. Apa yang kau dapat? Sebuah humor paling menyegarkan dalam beberapa tahun terakhir!
Keluarga yang penuh dengan personality-personality bertolak belakang selalu menjadi resep ampuh dalam membuat sebuah komedi yang efektif, terutama yang berformat sit-com (30 menitan). Namun pembawaan yang semi documentary dari modern family, membuat semuanya terkesan real (although it's obviously unreal) sehingga humornya semakin sampai dan menggelitik. Pada awalnya gw sedikit susah menemukan apa yang lucu dari humor yang sedikit low key dan tidak terlalu obvious. Namun setelah mengenal karakter lebih dalam, humornya menjadi semakin menjadi-jadi dan adiktif.
14 emmy nominations, 6 wins including the best comedy was totally well deserved by this series! 5 dari 10 principal castnya mendapat nominasi best supporting actor/actress membuktikan betapa apiknya permainan mereka disini. Semua bermain pas, konyol namun tetap believeable. Apa yang gw lebih suka dari Modern Family dibandingkan Parenthood adalah cara seri ini meng-handle permasalahan di dalam kisah keluarga itu sendiri. Jika Parenthood meng-handle permasalahan "artificial" keluarga mereka dengan dramatisir yang sedikit berlebihan dan feel good story yang sedikit "icky" dan mengganggu, maka Modern Family memilih untuk menghandle permasalahan "artificial" mereka degan humor yang tidak dipaksakan. Sering kali, apa yang terjadi di seri ini, juga terjadi di kehidupan nyata. Sesuatu yang Parenthood gagal lakukan.
Editing dari Modern Family, seperti yang gw bilang sebelumnya, menyerupai semi-documentary memberikan warna sendiri dan originalitas yang sangat berperan dalam meningkatkan dosis humor sepanjang seri ini. Mimik setiap karakternya benar-benar menggelitik dan pol! Gw udah bingung mau ngomong apa, kecuali kalau seri ini adalah salah satu seri komedi yang paling menggelitik yang pernah gw tonton setelah psych season pertama.

Verdict : 8.5/10

Saturday, June 19, 2010

Letters to Juliet

- Letters to Cliche yet Sweet Movie -
Sophie (Amanda Seyfried) adalah seorang fact checker, orang yang bertugas memastikan sebuah fakta dengan menginvestigasikannya (sedikit mirip detektif seperti katanya). Ia akan pergi berlibur ke Verona, kota latar belakang cerita Romeo & Juliet bersama sang tunangan Victor (Gael Garcia Bernal). Namun hubungan mereka sudah tidak seharmonis dulu dimana Victor sering terlalu sibuk mengurusi restorannya daripada pergi berliburan, berbagi saat-saat romantis bersama Sophie. Dalam petualangannya mengelilingi kot Verona ia melihat wanita-wanita yang menulis surat dan menempelkannya di dinding bawah balkoni tempat latar adegan paling memorable dalam Romeo & Juliet.Sophie yang penasaran, sekaligus bosan, mendekati wanita yang tugasnya mengumpulkan surat-surat itu. Setelah ditelusuri, rupanya setiap surat yang ditempel akan dibalas oleh sekretaris juliet. Ingin meningkatkan passionnya dalam menulis, Sophie memilih untuk bergabung bersama mereka. Suatu hari ia menemukan suatu surat tersembunyi yang ditanamkan di dalam dinding 53 tahun yang lalu. Sophiepun membalas surat itu, tanpa ada harapan untuk dibalas/ diberi respon kembali. Suatu hari Claire (Vanessa Redgrave), wanita yang menulis surat itu mendatanginya bersama cucunya, Charlie (Chris Egan). Di usia senjanya, ia bertekad untuk mewujudkan keinginannya, bertemu dengan Lorenzo Bartolini, kisah cinta di masa mudanya, yang tapa ia ketahui, adalah nama yang sangat pasaran di dataran eropa.
Film romantis komedi tidak pernah benar-benar salah. Pembawaan ceritanya memiliki suatu formula/pakem tersendiri yang jarang melenceng dan dijamin tidak akan benar-benar mengecewakan. Taruh saja bintang cantik semacam Amanda Seyfried dan pasangan laki-lakinya yang pas, bumbui dengan chemistry yang tepat, apapun ceritanya, film itu pasti akan memuaskan hati para penonton. Dan hal itulah yang terjadi di film ini. Cara pembawaan filmnya begitu khas, stereotipikal dan bukan sesuatu yang bisa dibilang baru. Bahkan bisa dibilang basi. Biasalah, pertamanya benci lama-lama suka, tapi kalau yang dibenci secantik Amanda Seyfried, siapa yang enggak bakal suka? Ya gak sih? :P
Tetapi itu sama sekali tidak berarti film ini buruk dan tidak menghibur loh. Selain beberapa hal yang sedikit maksa (terutama twist di bagian endingnya), dijamin kita akan mengeluarkan ekspresi "awwww" dan "romantisnya" saat kedua karakter utama berciuman. Humor-humornya juga tidak murahan, dan permainan para castnya bisa dibilang di atas rata-rata. Meski tidak ada hal baru yang diberikan dari film ini, setidaknya formula yang klise itu dibawakan dengan baik dan juga dibantu dengan chemistry antara Seyfried dan Egan yang benar-benar dapet.

Verdict : 7/10

Thursday, May 20, 2010

Leap Year

- More Spark of Sweetness Than I Ever Expect -
Anna (Amy Adams) amat sangat kecewa saat pacarnya selama empat tahun, Jeremy (Adam Scott) malah memberikannya sebuah anting, bukan cincin tunangan yang sangat ia dambakan. Sesaat setelah itu, Jeremy terpaksa harus terbang ke Dublin untuk menghadiri sebuah konfrensi kedokteran. Anna yang kecewa mendapatkan sebuah ide untuk meminang Jeremy di Dublin pada tanggal 29 Februari, sebuah tradisi di Irlandia yang mengijinkan wanita melamar pasangannya pada tanggal yang datang empat tahun sekali itu. Kondisi cuaca yang tidak mendukung memaksa pesawatnya untuk mendarat di Wales. Anna yang setengah mati ingin sampai ke Dublin bagaimanapun caranya akhirnya memilih mengarungi badai di laut menuju Cork, yang berujung mengantarkannya ke Dingle, sebuah kota kecil yang hanya memiliki satu bar, hotel, dan restoran. Pemilik hotel/bar/restoran itu adalah Declan (Matthew Goode) merangkap sebagai supir taksi, ia terpaksa mengantarkan Anna menuju Dublin dengan bayaran yang sesuai, semua untuk memastikan hotel/bar/restoran-nya tidak ditutup secara paksa.
Ada satu hal yang membuat kita tidak pernah bosan akan genre romantis komedi. Sebuah dunia sureal dimana dua orang good-looking dengan latar belakang berbeda dan sifat yang bertolak belakang, “magically” saling jatuh cinta dan semuanya berjalan lancar. Tidak ada yang terkesan nyata, namun untuk apa perlu ada kenyataan itu jika hal sureal seperti ini saja sudah sangat memuaskan. Menonton rom-com tidak lebih adalah sebagai sebuah pelarian dari dunia nyata, dimana semua tidak semanis itu. Leap Year setia akan pakem yang disebutkan di atas. Anna yang kelewat teratur dan strict (sangat sangat banyak karakter rom-com cewek seperti ini, benarkah wanita seperti ini ada di dunia asli?) sudah diset akan jatuh cinta pada Declan yang sarkastik dan menyebalkan. Mengatakan mereka berdua akan jatuh cinta sudah tidak merupakan sebuah spoiler karena itulah yang semua orang harapkan dari film jenis ini.
Yang berbeda adalah bagaimana proses itu terjadi. Kejadian-kejadian kecil yang menimbulkan percikan percikan asmara yang terkultimasi di sebuah adegan, yang meski “expected”, tetap efektif dan sweet. Amy Adams selalu bersinar dalam sebuah optimisme di setiap filmnya. Tanpa kehadirannya, film ini akan semakin terpeleset dan berantakan. Matthew Goode benar-benar menyebalkan selama 45 menit pertama, namun setelah karakternya mulai membuka diri, ia berhasil menunjukkan proses yang believeable dan acceptable. Tidak ada yang benar-benar spesial dari script dan ceritanya, namun hal itu sangat terbantu akan chemistry kedua lead-nya yang cukup kuat. Joke-jokenya tidak benar-benar membuat tertawa terpingkal-pingkal, namun beberapa adegan mampu membuat tertawa kecil karena permainan para aktornya yang di atas rata-rata.
Panorama-panorama Irlandia disajikan dengan begitu indah dan enchanting. Rasanya bagaikan menonton film epik ala LOTR tetapi dengan cerita rom-com generik yang boleh dibilang lebih sweet dan surprising dari beberapa film rom-com sejenis. Gw lumayan terkejut menyadari betapa gw menyukai film ini pada akhirnya dan kesan sweet yang gw dapatkan setelah menonton film ini. Meskipun sedikit aneh melihat orang tunangan setelah empat hari kencan singkat (mungkin gak sih hal kayak gini terjadi di dunia nyata?), semuanya tidak melenceng dari pakem rom-com modern, dan itu bukanlah hal yang buruk sama sekali.

Verdict : 6.5 / 10

Thursday, May 13, 2010

Robin Hood

Where Are Your Hood Robin?
Robin Longstride (Russell Crowe) adalah seorang pemanah yang berbakat dan berbakti pada negaranya. Pada sebuah penyerangan ke kastil prancis, King Richard the Lionheart meninggal setelah dipanah oleh seorang pelayan. Robin dan ketiga temannya yang dihukum sebelumnya oleh sang raja, melarikan diri dari perperangan untuk menghindari kekacauan dalam perjalan pulang mereka ke London. Dalam perjalanan mereka, mereka menemukan pasukan pimpinan Robert Loxley yang diserang secara mendadak oleh Sir Godfrey (Mark Strong), pengkhianat yang menjadi anak buah kepercayaan King John. Atas permintaan Robert Loxley yang sekarat dan kemudahan yang akan mereka dapatkan dalam perjalanan pulang, Robin dan ketiga temannya berpura-pura menjadi prajurit kepercayaan raja dan berjanji akan membawakan pedang milik Robert ke ayahnya di Nottingham.
Perkara menjadi semakin rumit setelah Godfrey menjalankan rencananya menghancurkan pemerintahan King John dengan menyerang baron-baron (gubernur) di pelosok dataran Inggris dengan mengatasnamakan perintah King John dan pemungutan pajak. Robinpun diangkat anak oleh Walter Loxley, ayah dari Robert Loxley dan memaksanya menikah dengan menantunya, Lady Marion (Cate Blanchett). Robin merasa ia harus tinggal di Nottingham lebih lama setelah sebuah tulisan di pedang milik Robert membawa sebuah flashback yang menganggu pikirannya. Pemerintahan Inggrispun terbelah-belah dan waktu semakin dekat sampai Godfrey menyerang Nottingham dan Raja Prancis mendarat di dataran Inggris.
Tidak ada yang benar-benar salah dari film ini. Aktingnya ciamik, ceritanya lumayan menarik, battle sequencenya juga bisa dibilang top-notch. Mungkin satu-satunya yang mengganggu adalah perasaan “cheated” yang didapat setelah menonton film ini. Jika kita ditanya mengenai robin hood, pasti yang terpintas adalah cerita mengenai seorang pemanah yag berani mencuri dari yang kaya dan membagikannya kepada rakyat miskin. Sebegitu terkenalnya cerita itu sampai sampai Indonesia mengadaptasi cerita itu mentah-mentah dengan memberikan embel-embel “Jaka” di depan nama si tokoh. Tetapi film ini melenceng dari premise yang terlintas di benak kita. Film ini lebih cocok disebut sebuah prekuel yang memiliki durasi terlalu panjang untuk disebut sebuah prekuel.
Ceritanya lebih berfokus kepada perjalanan sebuah tokoh fiksi memperjuangkan keadilan bagi rakyatnya dengan mengusahakan penandatanganan magna charta oleh si raja yang memerintah. Adegan pencurian yang dilakukan Robin hanya sekali, dan itu setelah film ini bergulir selama 1 jam 30 menit. Lebih lagi, ia mencuri dari kereta kuda, bukan dari orang kaya. Sampai momen itu, gw sebagai penonton masih mengharapkan si Robin mencuri dari orang kaya, yang sayangnya harapan gw tidak tercapai.
All things aside, selain kekecewaan gw diatas, gw sebenernya mendapatkan apa yang gw expected dari film ini. Russel Crowe bermain prima, Cate Blanchett masih menakjubkan dengan presencenya dan Mark Strong bermain baik dalam stereotip antagonisnya. Supporting castnya pas, terutama teman-teman Robin yang slengean dan menjadi sumber utama humor di film ini. Dialog-dialognya mungkin sedikit terlalu serius dan mudah membuat ngantuk, namun adegan actionnya tetap exciting dan seru. A liitle bit of chuckle, a pinch of romance, loads of action, and a grand finale battle sequence. A great popcorn movie that can be better, if only I didn’t feel cheated after watching it.

Verdict : 7/10

Tuesday, May 11, 2010

Iron Man(s)


Iron Man

Tony Stark(Robert Downey Jr.) adalah ilmuwan jenius yang menjadi direktur dari Stark Industries, sebuah perusahaan persenjataan besar yang diturunkan dari mendiang ayahnya. Sifatnya yang tidak mau serius dan playboy menutupi fakta bahwa ia adalah jenius yang lulus dari MIT saat berumur 17 tahun dengan gelar cum laude. Sang asisten, Pepper Potts (Gwyneth Paltrow) membantunya dalam kegiatan sehari-hari dan partner sang mendiang ayah, Obadiah Stane(Jeffrey Bridges), dipercaya mengurus kegiatan perusahaan. Untuk mengadakan tes misil terbarunya, “Jericho”, ia pergi ke afganistan ditemani sahabatnya, Letkol James Rhodes(Terrence Howard). Tanpa dugaannya, ia diculik oleh anggota teroris bernama Ten Rings. Sebuah elektromagnet telah ditanam di dekat jantungnya yang membuatnya mengalami cardiac arrest jika magnet itu diangkat. Pemimpin grun Ten Rings menjanjikannya kebebasan asalkan ia mau membuatkan replika misilnya di gua tempat ia disekap. Bersama sesama tahanan, Dr. Yinsen, ia membuat sebuah suit armor yang kelak dinamakan Iron Man.
Saat film ini booming banget di tahun 2008, gw merasa reluctant untuk menonton. Selain ketidaktahuan gw akan tokoh ini, gw entah kenapa males aja gitu untuk nonton. Setelah hari ini diajak nonton sekuelnya di bioskop, gw akhirnya nonton film pertamanya di HBO yang kebetulan lagi di puter. Adegan-adegan action di film ini dipoles dengan sangat top notch dan seru. Meskipun dialognya lumayan banyak, permainan Robert Downey Jr yang belum begitu booming dulu, begitu fresh dan kuat. Mimiknya yang khas menjadi ciri khas yang susah dielakkan. Gwyneth Paltrow mungkin sedikit underused. Gw hampir gak bisa ngenalin si Jeff Bridges yang tampil botak dan Terrence Howard sayangnya aktingnya kurang kuat sebagai si sidekick.
Meskipun begitu, entah kenapa gw gak merasa sebegitu excitednya. Bisa dibilang film ini gak begitu beda dengan superhero flick yang dirilis akhir-akhir ini. Meskipun film ini jauh lebih bagus daripada X-Men Wolverine, Ghost Rider dan Fantastic Four, gw tetep gak bisa menyandingkannya dengan film sekaliber The Dark Knight atau Spiderman. Something is missing, membuat film ini jadi biasa aja. Exciting while it lasts, fortgetable after it done.

Verdict :7/10

Iron Man 2

Langsung dilanjutkan dari scene terakhir film pertamanya, Stark dipaksa menyerahkan hasil ciptaanya kepada US Government atas kekhawatiran mereka kepada teroris-teroris di korea, irak, dan russia. Hal ini mentah-mentah ditolak oleh Stark yang ingin memfokuskan waktunya yang tersisa untuk meluncurkan Stark Expo kedua setelah tahun 1974, ayahnya mengadakan expo pertama. Perlahan namun pasti, racun semakin menyebar di darahnya akibat penggunaan arc reactor yang menopang jantungnya. Berbagai hal ia lakukan seperti meminum klorofil yang tidak membawa banyak perubahan. Hal diperumit saat Ivan Vanko (Mickey Rourke), anak dari partner sang ayah yang tertipu puluhan tahun yang lalu, menuntut balas dendam dengan berhasil membuat arc reactornya sendiri. Ivan dibantu oleh Justin Hammer (Sam Rockwell) saingan Stark yang ingin mempermalukannya. Bersama asisten barunya, Natalie Rushman (Scarlett Johannson) dan James Rhodes (Don Cheadle), Tony Spark berusaha menggagalkan usaha mereka memporakporandakan Stark Expo 2010.
Menonton film ini adalah kebalikan dari menonton Avatar. Iron Man 2 : 2 jam 15 menit yang entah mengapa terasa lama sekali. Avatar : 3 jam yang tidak terasa sama sekali. Ceritanya lumayan seru. Adegan actionnya tidak sedikit, tapi tetap saja durasinya terasa begitu lama dan diulur-ulur. Dialog-dialognya tidak se-cheesy film-film action standar yang gw sebut di review iron man 1, tetapi tetap tidak sekuat dialog-dialog di film pertama. Sialnya lagi, Mickey Rourke tidak sebegitu menyeramkannya untuk menampilkan kesan peran antagonis yang superior. Sam Rockwell berusaha menjadi Comic Relief yang joke-jokenya gak bisa gw tangkep. Don Cheadle menggantikan Terrence Howard yang sama-sama bermain standar. Gwyneth Paltrow bermain lebih baik dan Scarlett Johannson memerankan perannya sebagai eye-candy dengan baik.
Yang lebih mengecewakan lagi, adegan finalnya terasa sangat anti-klimaks dan rushed. Showdown terakhirnya selesai dalam waktu kurang dari 2 menit dan gw gak merasa puas sama sekali. Andaisaja si pembuat tidak muluk-muluk ingin membuat film ini sedikit lebih serius dan menambahkan lebih banyak lagi porsi action, mungki gw dan beberapa kritik lain akan menikmati film ini lebih. Lessen the dialouges, boost the flashy action scene! Film ini, seperti kebanyakan sekuel lainnya, mendapatkan suntikan budget yang lebih besar. Hal itu membawa dua hal, adegan action yang semakin flashy dan seru (meski tidak sebanyak seharusnya) dan naskah yang mengalami penurunan signifikan berakibat pada kualitas yang merosot dari film pertamanya.

Verdict : 6/10