Showing posts with label action. Show all posts
Showing posts with label action. Show all posts

Saturday, February 19, 2011

Oscar Watch List : Inception

- Twist, Fist, and Heist -
SPOILER ALERT! Inception adalah salah satu film blockbuster langka yang berhasil sukses secara komersial namun juga 'intriguing' secara kualitas cerita dan eksekusi. Inception berhasil mengumpulkan lebih dari 800 juta US$ di seluruh dunia, melampaui budget utamanya yang berkisar antara 200 juta US$. Hampir semua kritikus setuju, bahwa film ini membuktikan kualitas Christopher Nolan sebagai penulis naskah, sekaligus director film yang berkualitas yang mampu merangkai film yang layak disantap publik tanpa mengolok-ngolok kemampuan intelejen mereka. Menonton film ini, persiapkanlah diri anda untuk memutar otak secepat mungkin karena meskipun durasinya melebihi dua jam, alur film ini lumayan cepat dengan twist yang kerap berdatangan. Bersama dengan 7 nominasi lainnya, Inception adalah satu dari sepuluh kontender Best Picture Oscar yang akan diumumkan pada tanggal 27 Februari nanti.
Domm Cobb (Leonardo DiCaprio) adalah seorang pencuri ulung. Ia mencuri berbagai macam informasi rahasia dan berbahaya dengan cara memasuki mimpi bawah sadar targetnya. Bersama rekan setianya, Arthtur (Joseph Gordon-Levitt) ia diburu oleh berbagai macam pihak akibat pekerjaannya yang riskan itu. Hal itu pula yang membuatnya harus kehilangan kesempatan untuk bertemu kedua anaknya, Thomas dan Philippa. Suatu hari, dengan janji akan memberikannya kesempatan bebas untuk bertemu dengan kedua anaknya, Mr. Saito (Ken Watanabe) menginginkan Cobb melakukan misi yang berlawanan dengan pekerjaannya. Bukannya mengambil, ia ingin Cobb menanamkan sebuah ide dalam lawan bisnisnya, Robert Fischer (Cillian Murphy). Ia pun mulai membangun timnya. Ariadne (Ellen Page) berperan sebagai si arsitek yang membangun dunia mimpi yang akan mereka tuju. Eames (Tom Hardy) menggunakan keahliannya untuk meniru penampilan orang lain untuk memanipulasi dan menipu target dan Yusuf (Dileep Rao), seorang chemist yang memberikan supportnya dengan memberikan cairan sedatif yang berguna agar mereka bisa menjelajahi dunia mimpi semakin dalam. Misi yang tidak simpel ini semakin dipersulit tatkala kesehatan pikiran Cobb dipertanyakan akibat gangguan mental yang mempengaruhi pekerjaannya. Sering kali, bayangan sang mantan istri Mal (Marrion Cottilard) menghantui mimpi sekaligus pekerjaannya, menghalang-halanginya dan membuat misinya semakin sulit.
Inception menjadi salah satu film bergenre action yang berhasil mendapatkan nominasi untuk oscar. Meskipun ada bumbu-bumbu thriller dan science fiction disan-sini, film ini adalah film blockbuster at heart yang sukses diluluskan para juri untuk mendapatkan nominasi best picture. Seperti yang sudah saya bahas di review sebelumnya yang juga cukup lengkap dan komprehensif http://lenouvellededave.blogspot.com/2010/07/inception.html , Inception adalah sebuah film yang seru dan lengkap. Film yang dazzling dan menakjubkan dalam scenery dan image-image yang memanjakan mata, sekaligus memicu para penonton untuk memfokuskan perhatian penuhnya pada layar di sepanjang film. Endingnya yang bitterweet dan shocking, dimana pada akhirnya Domm masih terperangkap di mimpinya, memberikan open ending yang cukup menggantung terutama pada nasib rekan-rekanya. Bukan mustahil sebuah sekuel bisa datang, meskipun agak diragukan jika tidak dianggap benar-benar perlu oleh Nolan. Tidak ada bagian yang tidak penting, tidak signifikan atau dapat dilewatkan begitu saja. Semua detik film ini dipergunakan dengan efisien dan efektif. Sebuah masterpiece yang sayang untuk dilewatkan. Lengkap dalam segi naskah, unggul dalam editing, mantap dalam segi efek dan apik dalam segi akting, Inception adalah salah satu unggulan lain selain The Social Network dan The King's Speech untuk memenangi oscar tahun ini. Meskipun cukup disangsikan, everything can happen in Oscar night :D.

Verdict : 9.3 / 10

Sunday, January 30, 2011

The Mechanic

- Hitman With A Golden Heart -
Arthur Bishop (Jason Statham) adalah seorang pembunuh bayaran profesional yang memiliki kode etik kerjanya sendiri. Ia hidup menyendiri dan hanya berteman dekat dengan Harry McKenna (Donald Sutherland) mentornya dulu. Suatu hari, atas tuduhan mengkhianati organisasinya, Arthur ditugasi membunuh Harry dan memalsukannya menjadi sebuah pencurian mobil. Rasa iba dan bersalah membawa Arthur bertemu dengan Steve (Ben Foster) anak dari Harry yang tidak mempunyai masa depan jelas. Merasa berhutang budi pada Harry, ia mengangkat Steve menjadi partner sekaligus muridnya, menjadikannya seorang mentor bagi anak orang yang dibunuhnya.
Remake dari film tahun 1972 yang berjudul sama, The Mechanic membuka tahun 2011 dengan adegan aksi yang tidak tanggung-tanggung dan penuh dengan darah. 90 menit kita disajikan sebuah suguhan penuh adegan adu tinju yang seru dan asik, trik-trik menyelundup yang menegangkan dan misi-misi berbahaya yang tidak kalah seru. Meskipun begitu, tidak ada hal yang benar-benar baru yang disuguhkan oleh film ini. Semua mengalir lancar tanpa plot-hole yang berarti, namun begitu lancarnya sampai audience tidak akan mengingat film ini selama itu karena dijamin film ini juga akan lancar meluncur melalu ingatan kita. Tidak ada segi originalitas yang layak diacungi jempol. Meskipun tidak original, apa yang disajikan juga bukanlah barang buruk sehingga menghina film ini jelas sekali salah.
Jason Statham berada di comfort zonenya dengan memainkan karakter yang tidak bisa dibilang berbeda dengan yang ada di the transporter/expandables/crank/death race. Kesan "tough guy" yang ia miliki sudah terpatenkan dengan amat sangat paten. Meskipun begitu, bosan lamanya melihat dia tampak begitu serius dan tidak pernah have fun sebagai pembunuh/penyelamat/pengendara/pencuri bayaran. Sekalinya ia tersenyum, itu bagaikan sebuah penemuan langka yang mengejutkan. Ben Foster bermain cukup baik dengan membuktikan bahwa ia sanggup bersanding bahkan melampaui Jason Statham. Sisa dari castnya bermain cukup baik melihat batasan peran yang mereka dapat. Adegan aksi yang disuguhkan dieksekusi dengan apik, seru dan menegangkan, namun tidak ada nilai "special" yang dimiliki film ini untuk membuat film ini bisa diingat dua/tiga tahun ke depan. What it does, it does very well though not inspiring nor original.

Verdict : 7/10

Saturday, December 18, 2010

Tron : Legacy

- Torn All Over -
Sam Flynn kehilangan seorang figur ayah saat ia berumur 7 tahun. Ayahnya Kevin Flynn, figur penting di perusahaan encom, menghilang begitu saja tanpa ada kabar yang pasti. 21 tahun kemudian, ia meneruskan perjuangan ayahnya membuat progam encom menjadi progam yang bisa dinikmati semua kalangan masyarakat secara gratis, namun dengan cara yang gerilya. Ia menolak untuk duduk diam di kantor dan mengurus satu dari 500 perusahaan terbesar di dunia meskipun ia adalah pemegang saham terbesar di perusahaan itu sampai sekarang. Suatu hari, Alan, partner ayahnya mendapatkan sebuah panggilan di pagernya dari kantor Kevin yang lama. Penasaran, Sam menyelidikinya. Tanpa ia ketahui, ia terperangkap dalam dunia digital yang dipanggil "The Grid". Dimulailah perjuangan mencari sang ayah, dengan dibantu seorang gadis cantik bernama Quorra.
Tron : Legacy digembar-gemborkan Disney sebagai salah satu film "motion picture of the year". Tidak mau kalah dengan avatar, ia mengambil slot release yang tidak berbeda jauh dan berharap keajaiban pundi-pundi box office akan kembali terulang. Namun entah mengapa, saya merasa sedikit sangsi melihat nasib box-office film ini. Tron : Legacy merupakan sekuel dari film Tron yang dirilis tahun 1982 dulul. Sebuah film yang dianggap box office failure namun juga mendapat gelar cult classic. Beberapa tahun ini, film ini kembali mulai hangat terutama akibat eksposenya di game kingdom hearts. Inilah yang mendorong disney untuk membuat sebuah sekuel baru yang dianggap jauh lebih sukses dibandingkan film pertama. Opening box-offcicenya saya yakin akan bombastis namun akan sangat sulit untuk film ini menembus perolehan avatar atau dark knight sekalipun.
Segi visual dari film ini, tidak dapat dipungkiri, adalah salah satu persembahan visual terbaik dalam beberapa tahun terakhir. Lux, stylish, dan keren. Itulah 3 kata yang bisa mendeskripsikan tata visual film ini. Banyak sekali efek-efek yang inovatif dan breath taking, scenery yang memanjakan mata, dan kostum yang stylish dan modern. Jujur, film ini tidak berasa 2 jam terutama karena visualnya yang amat sangat kuat. Score dari music ini juga tidak kalah impressifnya terutama oleh bantuan daft punk yang T.O.P abis. Setiap scenenya tidak pernah membosankan karena penataan visual yang pas dan alunan musik yang mengagumkan.
Permainan aktornya, baik secara menyeluruh. Tidak ada yang benar-benar stand-out namun melihat terbatasnya pengembangan emosi yang bisa diambil dari script seperti ini, hal itu dapat dimaklumkan. Scriptnya sendiri adalah salah satu aspek terlemah film ini. Ceritanya cenderung basi dan monoton. Tidak ada hal baru yang ditawarkan dari sisi pengkarakteran atau twistnya sekalipun. Sebuah let-down yang cukup besar menengok tingginya kualitas film ini di sisi teknis. Yang membedakan film ini dengan avatar adalah emosi yang diberikan. Meskipun sama-sama mengangkat cerita bapuk yang dipoles keajaiban teknologi, artistik, visual, dan musikal, Tron adalah sebuah film yang dingin. Adegan-adegan aksi yang keren, tidak berhasil membuat penonton absorbed dan care pada karakternya seperti di film avatar. Di sisi inilah Tron kalah, dan diragukan memiliki darah yang cukup untuk bertahan sepanjang itu di tangga box office.

Verdict : 7.5/10

Saturday, November 13, 2010

Skyline

- Mediocre Line -
Jarrod (Eric Balfour) adalah seorang artist berbakat. Ditemani oleh pacarnya Elaine (Scottie Thompson) ia berkunjung ke apartemen sahabatnya, Terry (Donald Faison) yang sekarang menjadi special effect artist sukses. Setelah mendapat tawaran bekerja di perusahaan Terry, Jarrod dam Elaine menginap di penthouse mewahnya. Malam yang bahagia itupun berubah seketika saat berpuluh-puluh cahaya kebiru-biruan mendarat di Los Angeles. Cahaya-cahaya itu bergejolak dan menyinari sepenuh kota dengan sinar kebiru-biruan yang memabukkan. Orang-orang awam yang melihat cahaya itu perlahan-lahan tertarik dan terhisap ke dalam sebuah kapal alien besar yang menjadi asal muasal dari cahay-cahaya biru itu. Dapatkah Jarrod bertahan hidup bersama Elaine yang baru saja mengetahui bahwa ia sedang hamil?
Dari trailernya yang dibuat dengan sebegitu generiknya, gw udah lumayan yakin film ini akan menjadi your tipical B- monster movie. Rupanya? Film ini berhasil menjadi your tipical B- monster movie dengan twist yang menjatuhkan derajat film ini semakin jauh ke bawah. Sejujurnya film ini mengambil beberapa langkah yang tepat untuk membuat sebuah film "alien invasion" yang cukup fresh dan menegangkan. Adegan kejar-kejaran di satu jam pertama cukup membuat saya "concerned" dan deg-degan. Pilihan pembuat film ini untuk tidak menjelaskan apa yang membawa alien itu datang, untuk memfokuskan film ke perjuangan para survivor untuk bertahan hidup juga patut diacungkan jempol. Namun selepas pertengahan film, director dari film ini JELAS kebingungan bagaimana menyelesaikan film ini dengan bagus. It was clear, there's no sweet and happy way out. But they decided to take the unthinkable way to worsen this movie more with THAT spectacular ending.
Plot holes bertebaran disana-sini, bagaimana ceritanya malam menjadi pagi dalam hitungan orang menaiki tangga, mobil yang masih melaju di saat alien turun, dan banyak hal lain ikut melukai film ini secara keseluruhan. Akting para pemainnya juga tidak ada yang mengesankan. Pilihan untuk menggunakan aktor-aktor televisi untuk memfokuskan budget pada special effect juga bisa sedikit dipertanyakan menghitung betapa genericnya efek-efek yang ada. Tingkat originalitas film ini menjadi semakin kering setelah bentuk fisik monster itu semakin jelas. Tidak banyak set yang dipakai kecuali kamar penthouse terry, atap, kamar penthouse terry, lobi dan cuplikan cuplikan skyline dari Los Angeles yang diinvasi oleh berbagai macam kapal alien ikut membuat film ini menjadi semakin membosankan.
Lalu apa yang bisa menyelamatkan anda dari keburukan film ini?? Pertama, jangan berharap terlalu banyak dari film ini dan nikmati saja adegan-adegan cukup seru yang setara dengan serial televisi science fiction selama satu jam setengah ini. Kedua, lupakan 10 menit adegan terakhir, dan kalau bisa tinggalkan bioskop setelah satu adegan khusus yang berakhir dengan layar bersinar putih. Ketiga? Scottie Thompson yang masih tampil cantik meski lari-larian ketakutan.

Verdict : 4.5/10

Sunday, August 15, 2010

The Expendables

- Loud, Cheesy, and Fun! -
Barney Ross (Sylvester Stallone) adalah pemimpin dari The Expandables, sebuah grup pembunuh bayaran yang terkenal akan kehebatan mereka. Dibantu oleh Lee Christmas (Jason Statham) ahli melempar pisau, Yin Yang (Jet Li) ahli martial artist, Gunnar (Dolph Lundgren) yang kesetiannya dipertanyakan, Hale Ceasar (Terry Crews) ahli senjata-senjata dan Toll Road (Randy Couture), yang tidak segan-segan meledakkan segalanya. Bersama mereka mendapatkan sebuah misi baru ke pulau Vilena untuk membunuh jenderal pemimpin yang diperalat oleh anggota CIA yang korup. Dibantu anak jenderal itu sendiri, Sandra (Gisele Itie), mereka harus melaksanakan misi mereka apapun halangan yang terjadi. Bom, tembakan, pisau dan darah semua harus dihadapi tanpa rasa takut.
Sejak awal proyek film ini di announce, publik sudah sangat semangat terutama atas jejeran castnya yang tidak main-main. Arnie dan Bruce Willis bahkan bersedia tampil sebagai cameo yang amat, sangat, menghibur. Selain mereka berdua, wajah-wajah figuran lainnya juga tidak kalah terkenal dalam rancah dunia film action. Tanpa ragu lagi, film ini menjadi semacam tribute untuk semua film-film action yang dulu pernah dibintangi para cast-nya. The ultimate cheesy action movie berhak, teramat sangat berhak, dipanutkan kepada film ini.
Ceritanya sudah sering diulang-ulang, tidak terkesan fresh sama sekali, dan didaur ulang dengan sebegitu appearentnya. Meski begitu film ini berisi banyak sekali adegan actionnya yang tidak murahan, seru, dan menarik. Belum lagi humornya yang ‘dapet’ dan lumayan kocak. Amat sangat jarang gw bisa lihat Jason Statham ketawa karena sebuah joke. Mungkin di masa tuanya nanti, ia bisa mencoba rancah romantic comedy. Mungkin. Permainan semua castnya tidak ada yang benar-benar menonjol, namun Mickey Rourke tampil mengejutkan di porsinya yang sedikit dan Stallone berkarisma sepanjang film ini berjalan. Yang disayangkan adalah amat sangat underusednya Randy Couture dan Terry Crews dipakai. Padahal potensi menggodok humor dari mereka berdua sangat besar.
Adegan finalnya yang enggak main-main, efek yang spektakuler, dan ledakan yang amat sangat ‘meledak’ menjadi nilai tambah film ini. Yang lumayan menganggu adalah suaranya yang teramat, sangat, besar! Begitu besarnya gw harus tutup kuping selama 1/3 film itu sendiri. Apa mungkin bioskopnya yang baru, gw enggak tahu juga. Film sejenis ini butuh action, cheesiness and sexy lady. The action is exciting enough. The whole movie is cheesy enough. And the lady is sexy enough. Nice and satisfying movie.

Verdict : 6.5/10

Sunday, July 18, 2010

Inception

- Intelectually Challenging and Tremendously Fun! -
Domm Cobb (Leonardo DiCaprio) adalah seorang pencuri ulung. Ia mencrui berbagai macam informasi rahasia dan confidental dengan cara memasuki mimpi bawah sadar targetnya. Bersama rekan setianya, Arthtur (Joseph Gordon-Levitt) ia diburu oleh berbagai macam pihak akibat pekerjaannya yang riskan itu. Hal itu pula yang membuatnya harus kehilangan kesempatan untuk bertemu kedua anaknya, Thomas dan Philippa. Suatu hari, dengan janji akan memberikannya kesempatan bebas untuk bertemu dengan kedua anaknya, Mr. Saito (Ken Watanabe) menginginkan Cobb melakukan misi yang berlawanan dengan pekerjaannya. Bukannya mengambil, ia ingin Cobb menanamkan sebuah ide dalam lawan bisnisnya, Robert Fischer (Cillian Murphy)
Ia pun mulai membangun timnya. Ariadne (Ellen Page) berperan sebagai si arsitek yang membangun dunia mimpi yang akan mereka tuju. Eames (Tom Hardy) menggunakan keahliannya untuk meniru penampilan orang lain untuk memanipulasi dan menipu target dan Yusuf (Dileep Rao), seorang chemist yang memberikan supportnya dengan memberikan cairan sedatif yang berguna agar mereka bisa menjelajahi dunia mimpi semakin dalam. Misi yang tidak simpel ini semakin dipersulit tatkala kesehatan pikiran Cobb dipertanyakan akibat gangguan mental yang mempengaruhi pekerjaannya. Sering kali, bayangan sang mantan istri Mal (Marrion Cottilard) menghantui mimpi sekaligus pekerjaannya, menghalang-halanginya dan membuat misinya semakin sulit.
Sebuah film yang dijamin akan membuat penontonnya berpikir keras untuk mengikuti perkembanga cerita film yang amat apik ini. Hampir tidak bisa ditemukan plot-hole akibat pengembangan naskah yang amat rapat dan sempurna. Dialog antara karakternya mengalir dengan halus dan tidak pernah membuat film ini membosankan. Awal hingga pertengahan film yang solid dibuat semakin menggemaskan akibat pengembangan cerita yang menakjubkan dan begitu “absorbing”. Sungguh pengalaman menonton film yang amat engaging. Bisa dibilang merupakan satu dari beberapa film terbaik yang saya tonton di bioskop sepanjang pertengahan tahu 2010 ini.
Meski porsi dialognya cukup banyak, interaksi antara karakternya begitu kuat dan tidak pernah membosankan. Adegan aksinya juga seru dengan berbagai macam “Action” original yang lain dari yang lain. Satu scene yang paling impressive adalah pergulatan tokoh Arthur yang baku hantam di tengah-tengah lorong hotel yang berputar 360 derajat. Belum lagi sound effectnya yang jempolan dan dijamin akan membuat penonton semakin tertarik dalam dunia yang dibentuk Christopher Nolan. Berbagai macam spesial effect yang dihadirkan juga bisa dibilang setimpal dengan jumlah budget raksasa (hampir 200 juta US$). Banyak sekali scene yang fresh, new, dan amazing.
Akting Leonardo DiCaprio sebagai Dom yang memiliki masa lalu tragis, dibawakan dengan sangat meyakinkan dan sharp. Kekuatan akting Leonardo DiCaprio yang semakin terasah mengkukuhkan posisinya sebagai aktor muda paling berbakat dan paling selektif dalam menelutkan film sepanjang dekade ini. Tidak kalah kuat dengan penampilannya di Shutter Island (yang tidak kalah mengaggumkan, btw), nominasi Oscar bisa dibilang merupakan sebuah keharusan. Joseph Gordon-Levitt bermain cukup beda dengan mengambil jalur action yang sedikit melenceng dari resumenya. Meski begitu, ia memainkan peran “tangan kanan setia” dengan cukup baik. Ellen Page bisa dibilang tidak terlalu menonjol di antara castnya, meskipun begitu ia masih asik untuk diikuti. Ken Watanabe, Cillian Murphy dan Dileep Rao membawaka peran pembantu mereka dengan cukup kuat dan tidak kalah stamina dibandingkan Leo. Tom Hardy menjadi sumber humor yang asyik untuk diikuti dan Marrion Cotillard tampil beda sebagai si tokoh antagonis.
Menonton film ini, persiapkanlah diri anda untuk memutar otak secepat mungkin karena meskipun durasinya melebihi dua jam, alur film ini lumayan cepat dengan twist yang kerap berdatangan. Sungguh dijamin tidak akan rugi untuk menonton film ini, meskipun bisa dibilang bukan pilihan yang pas untuk dijadikan “date-movie” :P.

Verdict : 9/10

Wednesday, May 26, 2010

Prince of Persia : The Sands of Time

- Swashbuckling Prince With a Fancy Dagger -
Dastan (Jake Gyllenhaal) adalah seorang anak jalanan. Suatu hari, raja persia mengangkatnya menjadi anak angkat setelah melihat keberaniannya. Beberapa puluh tahun kemudian, Dastan beserta kedua kakak angkatnya menyerang sebuah kota suci setelah mata-mata kerajaan yang dikirim pamannya, Nizam (Ben Kingsley), mengabarkan adanya pembuatan senjata yang mengancam persia di tempat yang bebas dari kekerasan itu. Setelah penyerangan mereka berhasil, kakak pertama Dastan, Tus (Richard Coyle) menginginkan pernikahan dengan putri Tamina (Gemma Arterton) untuk menjaga kedamaian antara persia dan kota suci tersebut. Tamina akhirnya menerima permintaan itu setelah melihat “The Dagger of Time” (sebuah belati dengan semacam jam pasir di ujugnya), sebuah senjata magis yang disembunyikan di kota itu, berada di tangan Dastan. Sebelum sempat menikah dengan Dastan, sag raja meninggal teracuni jubah yang Dastan hadiahkan, membuatya menjadi buronan. Bersama Tamina, ia melarikan diri dari kerajaannya, berusaha membersihkan namanya, membuktikan bahwa seseorang yang dekat berada di balik semuanya, dan membawa “The Dagger of Time” sejauh-jauhnya dari orang yang menginginkannya.
Adaptasi game jarang yang menjadi box-office hit. Semakin jarang lagi yang mendapatkan pujian dari kritikus. Prince of Persia bisa dipastikan menjadi box-office hit dengan sokongan disney dibelakangnya. Namun apakah kualitasnya diatas film semacam tomb raider dan resident evil? One thing for sure, film ini adalah salah satu film yang sangat pas untuk mendeskripsikan sebuah pop corn movie. Actionnya banyak, fast paced dan seru. Dialog-dialognya berfungsi untuk membawa suatu adegan perteempuran satu ke adegan pertempuran yang lain. Plotnya sendiri bener-bener sangat “game”. Dalam sebuah game, seringkali si tokoh utama disuruh bolak-balik ke satu tempat dan tempat lain yang membawa mereka ke tempat final showdown bersama si antagonis. Bukannya salah pembangunan cerita seperti ini, namun hal itu begitu obvious terasa di film adaptasi game semacam ini, Silent Hill, dan lain-lain. Untungnya chemistry antara Dastan dan Tamina lumayan menyentil dan menarik untuk diikuti.
Permainan akting Jake Gyllehaal memang tidak bisa dibilang “wow” tetapi figurnya sangat pas untuk memainkan Dastan (meski kurang arab). Gemma Arterton lebih asik dilihat disini dibandingkan di Clash of Titans. Jika di Clash dia putih-putih pucet, disini dia coklat-coklat eksotis. Sama-sama asik dilihat sih, hehe. Ben Kingsley tidak benar-benar menonjol dan Alfred Molina menunjukkan sisi humorisnya bersama burung “ostrich” kesayangannya. Hal lain yang patut diacungi jempol adalah penggunan CGI-ya yang begitu megah dan menakjubkan. Istana persia dan kota suci diuat begitu megah dan meyakinkan. Setting interiornya juga bisa dibilang lumayan otentik dan pas. Begitu juga dengan musical scorenya yang terasa “arab” banget.
Overall, tidak ada yang benar-benar salah dari film ini. Cepat, seru, dan asik, namun sedikit susah diingat setelah ditonton di bioskop. Tetapi yang pasti, ini adalah salah satu film adaptasi game terbaik, terutama mungki dibantu dengan suntikkan budget yang lebih besar, director yang lebih pengalaman (Harry Potter 5) dan studio besar semacam Disney di belakangnya. Lumayan gw rekomendasikan buat yang lagi butuh hiburan ringan.

Verdict : 7/10

Thursday, May 13, 2010

Robin Hood

Where Are Your Hood Robin?
Robin Longstride (Russell Crowe) adalah seorang pemanah yang berbakat dan berbakti pada negaranya. Pada sebuah penyerangan ke kastil prancis, King Richard the Lionheart meninggal setelah dipanah oleh seorang pelayan. Robin dan ketiga temannya yang dihukum sebelumnya oleh sang raja, melarikan diri dari perperangan untuk menghindari kekacauan dalam perjalan pulang mereka ke London. Dalam perjalanan mereka, mereka menemukan pasukan pimpinan Robert Loxley yang diserang secara mendadak oleh Sir Godfrey (Mark Strong), pengkhianat yang menjadi anak buah kepercayaan King John. Atas permintaan Robert Loxley yang sekarat dan kemudahan yang akan mereka dapatkan dalam perjalanan pulang, Robin dan ketiga temannya berpura-pura menjadi prajurit kepercayaan raja dan berjanji akan membawakan pedang milik Robert ke ayahnya di Nottingham.
Perkara menjadi semakin rumit setelah Godfrey menjalankan rencananya menghancurkan pemerintahan King John dengan menyerang baron-baron (gubernur) di pelosok dataran Inggris dengan mengatasnamakan perintah King John dan pemungutan pajak. Robinpun diangkat anak oleh Walter Loxley, ayah dari Robert Loxley dan memaksanya menikah dengan menantunya, Lady Marion (Cate Blanchett). Robin merasa ia harus tinggal di Nottingham lebih lama setelah sebuah tulisan di pedang milik Robert membawa sebuah flashback yang menganggu pikirannya. Pemerintahan Inggrispun terbelah-belah dan waktu semakin dekat sampai Godfrey menyerang Nottingham dan Raja Prancis mendarat di dataran Inggris.
Tidak ada yang benar-benar salah dari film ini. Aktingnya ciamik, ceritanya lumayan menarik, battle sequencenya juga bisa dibilang top-notch. Mungkin satu-satunya yang mengganggu adalah perasaan “cheated” yang didapat setelah menonton film ini. Jika kita ditanya mengenai robin hood, pasti yang terpintas adalah cerita mengenai seorang pemanah yag berani mencuri dari yang kaya dan membagikannya kepada rakyat miskin. Sebegitu terkenalnya cerita itu sampai sampai Indonesia mengadaptasi cerita itu mentah-mentah dengan memberikan embel-embel “Jaka” di depan nama si tokoh. Tetapi film ini melenceng dari premise yang terlintas di benak kita. Film ini lebih cocok disebut sebuah prekuel yang memiliki durasi terlalu panjang untuk disebut sebuah prekuel.
Ceritanya lebih berfokus kepada perjalanan sebuah tokoh fiksi memperjuangkan keadilan bagi rakyatnya dengan mengusahakan penandatanganan magna charta oleh si raja yang memerintah. Adegan pencurian yang dilakukan Robin hanya sekali, dan itu setelah film ini bergulir selama 1 jam 30 menit. Lebih lagi, ia mencuri dari kereta kuda, bukan dari orang kaya. Sampai momen itu, gw sebagai penonton masih mengharapkan si Robin mencuri dari orang kaya, yang sayangnya harapan gw tidak tercapai.
All things aside, selain kekecewaan gw diatas, gw sebenernya mendapatkan apa yang gw expected dari film ini. Russel Crowe bermain prima, Cate Blanchett masih menakjubkan dengan presencenya dan Mark Strong bermain baik dalam stereotip antagonisnya. Supporting castnya pas, terutama teman-teman Robin yang slengean dan menjadi sumber utama humor di film ini. Dialog-dialognya mungkin sedikit terlalu serius dan mudah membuat ngantuk, namun adegan actionnya tetap exciting dan seru. A liitle bit of chuckle, a pinch of romance, loads of action, and a grand finale battle sequence. A great popcorn movie that can be better, if only I didn’t feel cheated after watching it.

Verdict : 7/10

Tuesday, May 11, 2010

Iron Man(s)


Iron Man

Tony Stark(Robert Downey Jr.) adalah ilmuwan jenius yang menjadi direktur dari Stark Industries, sebuah perusahaan persenjataan besar yang diturunkan dari mendiang ayahnya. Sifatnya yang tidak mau serius dan playboy menutupi fakta bahwa ia adalah jenius yang lulus dari MIT saat berumur 17 tahun dengan gelar cum laude. Sang asisten, Pepper Potts (Gwyneth Paltrow) membantunya dalam kegiatan sehari-hari dan partner sang mendiang ayah, Obadiah Stane(Jeffrey Bridges), dipercaya mengurus kegiatan perusahaan. Untuk mengadakan tes misil terbarunya, “Jericho”, ia pergi ke afganistan ditemani sahabatnya, Letkol James Rhodes(Terrence Howard). Tanpa dugaannya, ia diculik oleh anggota teroris bernama Ten Rings. Sebuah elektromagnet telah ditanam di dekat jantungnya yang membuatnya mengalami cardiac arrest jika magnet itu diangkat. Pemimpin grun Ten Rings menjanjikannya kebebasan asalkan ia mau membuatkan replika misilnya di gua tempat ia disekap. Bersama sesama tahanan, Dr. Yinsen, ia membuat sebuah suit armor yang kelak dinamakan Iron Man.
Saat film ini booming banget di tahun 2008, gw merasa reluctant untuk menonton. Selain ketidaktahuan gw akan tokoh ini, gw entah kenapa males aja gitu untuk nonton. Setelah hari ini diajak nonton sekuelnya di bioskop, gw akhirnya nonton film pertamanya di HBO yang kebetulan lagi di puter. Adegan-adegan action di film ini dipoles dengan sangat top notch dan seru. Meskipun dialognya lumayan banyak, permainan Robert Downey Jr yang belum begitu booming dulu, begitu fresh dan kuat. Mimiknya yang khas menjadi ciri khas yang susah dielakkan. Gwyneth Paltrow mungkin sedikit underused. Gw hampir gak bisa ngenalin si Jeff Bridges yang tampil botak dan Terrence Howard sayangnya aktingnya kurang kuat sebagai si sidekick.
Meskipun begitu, entah kenapa gw gak merasa sebegitu excitednya. Bisa dibilang film ini gak begitu beda dengan superhero flick yang dirilis akhir-akhir ini. Meskipun film ini jauh lebih bagus daripada X-Men Wolverine, Ghost Rider dan Fantastic Four, gw tetep gak bisa menyandingkannya dengan film sekaliber The Dark Knight atau Spiderman. Something is missing, membuat film ini jadi biasa aja. Exciting while it lasts, fortgetable after it done.

Verdict :7/10

Iron Man 2

Langsung dilanjutkan dari scene terakhir film pertamanya, Stark dipaksa menyerahkan hasil ciptaanya kepada US Government atas kekhawatiran mereka kepada teroris-teroris di korea, irak, dan russia. Hal ini mentah-mentah ditolak oleh Stark yang ingin memfokuskan waktunya yang tersisa untuk meluncurkan Stark Expo kedua setelah tahun 1974, ayahnya mengadakan expo pertama. Perlahan namun pasti, racun semakin menyebar di darahnya akibat penggunaan arc reactor yang menopang jantungnya. Berbagai hal ia lakukan seperti meminum klorofil yang tidak membawa banyak perubahan. Hal diperumit saat Ivan Vanko (Mickey Rourke), anak dari partner sang ayah yang tertipu puluhan tahun yang lalu, menuntut balas dendam dengan berhasil membuat arc reactornya sendiri. Ivan dibantu oleh Justin Hammer (Sam Rockwell) saingan Stark yang ingin mempermalukannya. Bersama asisten barunya, Natalie Rushman (Scarlett Johannson) dan James Rhodes (Don Cheadle), Tony Spark berusaha menggagalkan usaha mereka memporakporandakan Stark Expo 2010.
Menonton film ini adalah kebalikan dari menonton Avatar. Iron Man 2 : 2 jam 15 menit yang entah mengapa terasa lama sekali. Avatar : 3 jam yang tidak terasa sama sekali. Ceritanya lumayan seru. Adegan actionnya tidak sedikit, tapi tetap saja durasinya terasa begitu lama dan diulur-ulur. Dialog-dialognya tidak se-cheesy film-film action standar yang gw sebut di review iron man 1, tetapi tetap tidak sekuat dialog-dialog di film pertama. Sialnya lagi, Mickey Rourke tidak sebegitu menyeramkannya untuk menampilkan kesan peran antagonis yang superior. Sam Rockwell berusaha menjadi Comic Relief yang joke-jokenya gak bisa gw tangkep. Don Cheadle menggantikan Terrence Howard yang sama-sama bermain standar. Gwyneth Paltrow bermain lebih baik dan Scarlett Johannson memerankan perannya sebagai eye-candy dengan baik.
Yang lebih mengecewakan lagi, adegan finalnya terasa sangat anti-klimaks dan rushed. Showdown terakhirnya selesai dalam waktu kurang dari 2 menit dan gw gak merasa puas sama sekali. Andaisaja si pembuat tidak muluk-muluk ingin membuat film ini sedikit lebih serius dan menambahkan lebih banyak lagi porsi action, mungki gw dan beberapa kritik lain akan menikmati film ini lebih. Lessen the dialouges, boost the flashy action scene! Film ini, seperti kebanyakan sekuel lainnya, mendapatkan suntikan budget yang lebih besar. Hal itu membawa dua hal, adegan action yang semakin flashy dan seru (meski tidak sebanyak seharusnya) dan naskah yang mengalami penurunan signifikan berakibat pada kualitas yang merosot dari film pertamanya.

Verdict : 6/10

Friday, February 19, 2010

A Teenage Demi-God, A Sexually Driven Director, and A Family Longing Grandfather

I haven’t had the chance to update this blog due to the TRY OUT and hectic time schedule, so now i’m going to post 3 review of some movie at the same time :)
Percy Jackson and the Olympians: The Lightning Thief
Percy Jackson adalah remaja penderita disleksia akut dan berbagai keunikan lainnya. Suatu hari ia diserang oleh fury, semacam monster bersayap, saat study tour-nya. One things lead to another, rupanya Percy (Perseus) Jackson adalah anak dari Poseidon yang dituduh telah mencuri Lightining Bolt milik Zeus. Demi membersihkan nama dan menyelamatkan ibunya, Percy ditemani anak dari Athena, Annabeth, dan seorang Satyr bernama Grover, memulai perjalanannya mengelilingi Amerika untuk mengumpulkan mutiara ajaib yang bisa membawa mereka keluar dari Underworld
Filmnya sendiri terasa cepat, fun dan enjoyable. Moment favorit gw jelas saat Uma Thurman unjuk gigi jadi Medusa. It’s like poison ivy with snakes all over her head! Ceritanya mudah, mudah, mudah sekali dicerna dengan penyelesaian straight forward yang gak ba-bi-bu dengan tokoh pencuri sebenarnya yang bisa ditebak setelah 30 menit pertama. Spesial efeknya lumayan, terutama saat ngelawan Hydra. Akting pemain-nya? Bisa dibilang tidak ada yang benar-benar memorable. Dengan Logan Lerman sebagai pemikat remaja perempuan, Alexandra Daddario sebagai pemikat remaja laki-laki dan Brandon T.Jackson denga tingkah konyolnya sebagai pemikat anak anak. Fun and enjoyable ride with nothing special whatsoever.

Verdict : 6/10
Nine
Guido Contini adalah seorang director yang terkenal dengan film-film khas italianya yang memikat banyak orang. Dengan tekanan producernya, ia diharuskan membuat seuah film baru meski ia belum memiliki ide apa-apa. Kehidupannya-pun kembali merunyam setelah berbagai wanita dalam kehidupannya merasuki pikirannya yang masih stuck di tahap anak-anak. Sang istri yang terluka ditinggalkan, sang selingkuhan yang jengah jadi wanita kedua, sang reporter yang gila pada dirinya, sang perancang kostum yang jadi teman curhatnya, dan beberapa wanita lain yang memiliki pengaruh berbeda-beda pada diri sang maestro.
This movie is a mess. Secara kesinergisan, cerita dari film ini sebenernya sangat dangkal dan gak terlalu menarik. Kisah kemelut hidupnya Guido gak involving sama sekali. But aside of that, secara musikalisasi, film ini termasuk yang top-notch. Lagu-lagunya bisa dibilang memikat dengan kekuatannya masing-masing. Lihat saja Kate Hudson di Cinema Italiano dan Marion Cotillard di My Husband Make Movies. Namun entah seberapa bagusnya produksi musikal di film ini, Nine hampir melakukan kesalahan fatal yang Mammamia lakukan. Menjadi sekumpulan video klip tanpa cerita yang sinergis dan engaging. Hampir Rob, sangat hampir!

Verdict : 6/10
Everybody's Fine
Frank Goode baru saja kehilangan sang istri delapan bulan lalu, dan sejak hari pemakamannya, ia tidak pernah berkumpul bersama anak-anaknya lagi. Suatu hari, anak-anaknya tidak ada yang bisa datang untuk acara kumpul bersama. Merasa kesepian. Ia pun memulai road tripnya untuk mengunjungi keempat anaknya satu persatu. Mulai dari David, seorang pelukis di Manhattan. Amy, seorang businesswoman di advertising agency yang cukup mapan. Robert, perkusionis di sebuah orkestra dan Rosie seorang dancer di Las Vegas.
Film-film road trip selalu notabene dengan keliaran libido laki-laki yang tidak terkendali dan menjurus ke pornoaksi. Namun sebuah film roadtrip tentang bapak-bapak bapuk yang kesepian bisa dibilang memiliki aspek freshness-nya sendiri. Robert De Niro bermain sangat baik. Ia memainkan karaternya yang low key, pendiam, dan simpatik dengan sangat meyakinkan. Cast-cast pembantu lainnya juga bisa dibilang lumayan kuat, terutama Drew Barrymore dan Kate Beckinsale. Ceritanya sebenarnya sangat simple, namun tetap touching dan memiliki pesan moral yang sangat menyentuh dan kritik sosial yang sangat tajam. Film yang pas untuk ditonton bersama seluruh anggota keluarga.

Verdict : 7/10